Pantaskah Merasa Aman?

www.omaQ_.org042Ada yang harus diwaspadai dalam kehidupan kita di zaman ini, yakni mengecilkan arti dosa. Menggarap pahala tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik, tidak demikian dengan bermaksiat kepada Allah. Alasannya, toh yang beramal saleh belum tentu hidupnya makmur, dan yang bermaksiyat juga tak kunjung mendapat balasan. Maka penimbunan dosa pun mulai banyak dilakukan.

Cara bepikir seperti di atas seringkali menggoda orang untuk melalaikan perintah dan larangan Allah SWT. Orang-orang yang mengerjakan perintah Allah acapkali dibuat bingung oleh perasaannya sendiri; mengapa mereka tidak kunjung mendapat balasan kebaikan yang instan untuk amal mereka. Keputusasaan hampir-hampir mendera mereka.

Sementara pelaku kemungkaran seringkali terus jumawa. Sebanyak apapun perbuatan dosa yang dikerjakan, sepertinya tak ada balasan bahkan sesuatu yang mengancam mereka. Akibatnya mereka terus menerus mengulangi kemungkaran tersebut tanpa merasa takut sedikitpun.

Harus dipahami bahwa mendatangkan balasan kebaikan di dunia maupun balasan siksa adalah hak prerogatif Allah SWT. Dialah yang berhak menentukan kapan hal itu akan datang kepada hamba-hambaNya. Ketika kaum musyrik Quraisy menantang Rasulullah agar ia menurunkan azab, Allah bergeming. Tidak serta merta tantangan itu didatangkan.

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” (QS. al-Anfal: 32-33).

Namun jika Allah menghendaki maka tak akan ada yang sanggup menahan azabNya yang amat keras. Tak akan ada yang akan bisa selamat bila siksa Allah sudah diturunkan kepada para pelaku kemungkaran. Sebagaimana Allah telah membinasakan umat-umat terdahulu dengan kehancuran yang sehancur-hancurnya.

Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)? (QS. Qaf: 36).

Hanya Allah yang berhak menentukan kapan Ia akan menghancurkan suatu negeri yang di dalamnya berlangsung kemungkaran. Tidak ada satupun insan yang tahu kapan hal itu akan terjadi. Karena itu sudah sepatutnya setiap orang jangan pernah merasa tenang dari azab Allah. Karena hal bisa menimpa manusia kapan saja.

Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. (QS. al-A’raf: 4)

Semoga perasaan was-was itu bermanfaat menjadi dorongan untuk bertakwa kepada Allah. Senantiasa menjaga perintah dan laranganNya agar kita terbebas dari siksa Allah SWT. yang keras lagi pedih.

Pantaskah Merasa Aman?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s